Categories
Uncategorized

Nagoya Seperempat peninggalan Jepang di Batam

Popularitas wilayah Nagoya di Batam, Kepulauan Riau, bagaikan pusat hiburan, pusat perbelanjaan, serta Chinatown tidak butuh dipertanyakan lagi, walaupun nama itu tidak sempat diakui secara formal serta sudah di informasikan cuma dari mulut ke mulut.

Menegaskan orang- orang Nagoya di Jepang, nama itu memanglah tiba dari orang- orang Jepang yang bekerja buat Taisei International Corporation, industri infrastruktur Jepang yang membangun pelabuhan Batu Ampar serta bendungan Nongsa di Batam pada tahun 1970- an. Mereka menyebut wilayah Lubuk Baja ini, tempat mereka biasa minum serta makan, Nagoya.

” Orang- orang masih memanggil[daerah] Nagoya, meski itu tidak sempat jadi nama formal,” kata pimpinan komunitas Rukun Khazanah Peninggalan Batam, Machmur Ismail, yang pula mantan pimpinan Lembaga Adat Melayu( LAM). Cabang kota Batam.

Machmur, yang bekerja buat industri yang sama pada dikala itu, berkata nama Nagoya mulai kerap diucap pada tahun 1978.

” Kala aku masih kecil, kami menyebut wilayah itu bagaikan Lubuk Baja, yang sudah secara formal diadopsi bagaikan nama kabupaten,” kata Machmur.

Popularitas Nagoya Batam apalagi sudah menggapai Jepang sendiri, paling utama orang- orang Nagoya, kota terbanyak keempat di negeri ini. Ini sudah menarik stasiun Televisi dari Nagoya buat mengirim kru buat menguak sejarah Nagoya di Batam.

Machmur Ismail merupakan salah satu sumber yang diwawancarai oleh kru Televisi.

” Mereka merasa terdapat ikatan antara Nagoya di Jepang serta Nagoya di Batam. Mereka merasakan rasa mempunyai,” kata Machmur.

Ia meningkatkan kalau, walaupun Nagoya cuma nama informal, pejabat pemerintah wilayah, tercantum walikota, senantiasa menyebut wilayah itu bagaikan Nagoya.

Kala meningkatkan Batam pada tahun 1970- an, hingga Menteri Studi serta Teknologi merangkap pimpinan Tubuh Pengkajian serta Pelaksanaan Teknologi( BPPT) BJ Habibie bawa banyak orang muda pintar buat meningkatkan pulau itu, yang pada waktu itu merupakan kota dengan cuma sebagian 6. 000 orang di lahan hutan yang baru dibuka, dengan infrastruktur terbatas serta sarana hiburan.

Salah satunya merupakan Tjahjo Prionggo, yang saat ini merupakan salah satunya insinyur dari periode awal Otorita Pengembangan Industri Batam yang masih bekerja buat lembaga yang dikala ini diketahui bagaikan BP Batam.

Tjahjo berkata kalau Sekupang merupakan salah satu wilayah awal yang dilengkapi dengan sarana semacam pelabuhan, jalur serta zona pejalan kaki yang meniru konsep Singapore. Tetapi, banyak pengusaha lokal menolak ditempatkan di Sekupang serta Batam Center, yakin wilayah itu merupakan bagian dari perut serta ekor naga, bagi aplikasi feng shui Tiongkok, karenanya dikira ditempatkan di situ tanda- tanda kurang baik untuk bisnis.

Pengusaha lokal ini malah menargetkan Nagoya, yang mereka yakini bagaikan bagian dari kepala naga.

” Ini menarangkan kenapa pengembangan kedua wilayah sedikit tertinggal di balik Nagoya,” Tjahjo baru- baru ini berkata kepada The Jakarta Post.

Ia berkata penamaan tempat di Batam kerap terpaut dengan apa yang dilihat di tempat tiap- tiap. Bagaikan contoh, ia menunjuk ke Simpang Frengky, persimpangan di mana mega apartemen Pollux Meisterstadt Habibie dikala ini terletak. Tempat itu dinamai demikian sebab, pada dikala itu, terdapat tumpukan paku konstruksi besar di situ. Paku itu hendak digunakan buat meningkatkan rumah sakit, namun sebab rumah sakit tidak sempat dibentuk serta paku dibiarkan menumpuk, orang- orang menyebut tempat Simpang Frengky buat merujuk pada nama Frengky Piles yang tertulis pada paku.

Sama halnya dengan Simpang Jam, yang diberi nama cocok dengan jam yang dibentuk di tengah persimpangan oleh Bank Dagang Negeri( BDN). Nama itu dipertahankan sampai saat ini, meski jam telah tidak terdapat lagi serta bank telah dilikuidasi.

Menimpa Nagoya, tidak terdapat uraian yang jelas kenapa dia diucap demikian, kecuali kalau itu merupakan tempat di mana para pekerja Jepang dahulu biasa menghabiskan waktu buat minum serta makan.

Batam pada 1980- an sampai 1990- an diketahui bagaikan surga untuk mode berlabel, buah- buahan impor, bawang putih, serta elektronik.

Tjahjo mencatat perkembangan populasi di Batam tercantum yang paling tinggi di Indonesia, apalagi sempat menggapai 26 persen per tahun, berkat migrasi dari wilayah lain di Indonesia.

” Pada waktu itu Batam jadi magnet, tempat orang tiba buat mengejar impian mereka,” kata Tjahjo, meningkatkan kalau, kala dia datang pada tahun 1989 serta menetap secara permanen di Batam pada tahun 1992, nama Nagoya telah terkenal.

Ia berkata zona Nagoya membentang dari Jalan. Raden Patah di depan kantor Polisi Lubuk Baja ke wilayah Jodoh di depan hotel Travelodge. Pusat perbelanjaan di wilayah ini diketahui bagaikan Nagoya.

Sampai 2005, wilayah ini diketahui dengan panti- panti karaoke, bar- bar bergaya Jepang, serta pelacuran.

Tidak terdapat yang bisa ditemui hari ini, kecuali buat beberapa restoran Jepang.

Bagi Statistik Indonesia( BPS), Batam merupakan rumah untuk 1, 37 juta orang, yang sebagian besar merupakan pendatang dari wilayah lain.( yun/ kes)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *