Categories
Uncategorized

Sejarah Suku Semendo

Sejarah Suku Semendo – Suku semendo terletak di kabupaten Semendo, Kabupaten Muara Enim, di provinsi Sumatera Selatan. Subdivisi Semendo dibagi menjadi tiga kecamatan: 1 kabupaten pusat dan 2 kabupaten representatif, 31 desa dengan luas 900 km2 dan ibukotanya adalah pulau Panggung.

Secara historis, master pendidikan semendo berasal dari keturunan Banten yang beremigrasi dari Jawa ke pulau Sumatra beberapa abad yang lalu dan kemudian menetap di wilayah Semendo dan memiliki anak dan cucu.

Sejarah-Suku-Semendo
Sejarah Suku Semendo

Sejarah Suku Semendo

Berdasarkan hasil tindak lanjut historis, beberapa bukti sejarah ditemukan:

  1. 1650 atau 1072 M, Hijriyah bertemu sekitar 50 tahun ulama di Perdipe, di selatan Sumatra.
  2. Mereka berasal dari wilayah keluarga Melayu, yang meliputi Jawa, Sumatra, Kalimantan, semenanjung Malaka, Fak-Fak-Papua, Ternate dan kepulauan Mindanau.
  3. Hasil mudzakarah ini menyebabkan perluasan Dakwah Islam, yang menyebabkan erosi anisme dan budaya ketidaktahuan dalam masyarakat.
  4. Munculnya kader mujahidin melawan penjajah Eropa.
  5. Perluasan wilayah Islam ditandai dengan munculnya kesultanan baru, yang masing-masing bekerja dengan baik bersama.

Tokoh Sentral pada Mudzakarah ’Ulama Serumpun Melayu abad 17 M

Berdasarkan arsip lama dalam bentuk kagha (tulisan dengan huruf Ulu pada kulit kayu) ditemukan di Dusun Penghapau, Semende Darat, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, dan pada tahun 1974 oleh Dr. Muhammad Nur (arkeolog di Jakarta Pusat) ada beberapa dokumen sejarah. Pada 1072 Hijriyah atau pada 1650 AD ada seorang tokoh Ulama bernama Syech Nurqodim al-Baharudin yang adalah Puyang Awak dan mengajarkan agama Islam di dataran Gunung Dempo di Sumatra selatan.

Menurut buku “Jagad Basemah Libagh Semende Panjang”, diedit oleh pembaca Dzumirah, karya TG.KH. Dr Thoulun Abdurrauf menjelaskan bahwa kaum imperialis dan kapitalis Eropa (Portugis, Inggris, dan Belanda) merampok dan merampok laut pada abad ke 14-17 M, yang dalam bahasa Melayu disebut Mengayau. Dengan taktik devide et impera, mereka mencoba membagi penduduk ke dalam keluarga Melayu, yang terkonsentrasi di pulau Jawa dan semenanjung Malaka. Para wali di wilayah tersebut, dipimpin oleh Syech Nurqodim al-Baharudin pada tahun 1650 Masehi. / 1072 h, mereka melakukan konsultasi di Perdipe (hari ini di kota Pagar Alam, tingkat Gunung Dempo di Sumatra selatan). Salah satu tujuan pertimbangan ini adalah untuk menentukan kekuatan persiapan Perang Bulan Sabit Merah untuk menghancurkan ekspansi Perang Salib di Asia Tenggara.

Menurutnya, kosakata “Belanda” adalah istilah Malaysia untuk orang-orang di Belanda. Kata Belanda berasal dari dua suku kata “Divide” (pemisahan) dan “Nde” (keluarga) dan berarti “pengrajin untuk membagi sebuah keluarga”. Bertentangan dengan arti kata “semende” dari dua suku kata “itu sendiri” (satu) dan “nde” (keluarga), arti “keluarga” adalah persaudaraan orang percaya.

Hasil Keputusan Mudzakarah Ulama Tempo Dulu

Aktivitas mata pencaharian dan propaganda-nya mulai menyebar. Bahwa sudah ada seorang Aulia bernama Syekh Nur Qodim Al Baharudin di daerah Batang Hari Sembilan. Banyak tokoh agama / tokoh agama dari berbagai daerah datang mengikuti undangan Puyang Nur Qodim untuk menetap di Talang Tumutan Tujuh, yang akhirnya diresmikan oleh Puyang Ratu Agung Paduh. Dari daerah ini, ekspansi disebut daerah Semende Panjang Basemah Libemah semesta.

Kegiatan Syaikh al Baharudin untuk membuka wilayah meliputi:

  1. Pembukaan dusun Pagaruyung dan area pertanian di bawah bimbingan adat Pagaruyung Puyang Ahmad Pendekar Raje dari Minang Kabau.
  2. Pembaruan fraksi dan pembagian wilayah Peghapau di bawah arahan Puyang Prikse Alam dan Puyang Agung Nyawa bersama dengan Puyang Tuan Kuase Raje Ulieh dari Tiongkok, yang nama aslinya adalah Ong Gun Tie
  3. Pembukaan Dusun dengan pemukiman di dusun Muara Tenang Putra Sunan Bonang dari Jawa. Di Tanjung Iman dari Puyang Same Wali, di Padang Ratu dari Puyang Nakanadin, di Tanjung Raye dari Puyang Regan Bumi dan Tuan Guru Sakti Gumai dan di Tanjung Laut Puyang Tuan Kacik dari Pardipe
  4. Perpanjangan pembukaan daerah Marga Semende, Muare Saung dan Marga Pulau Beringin (OKU).
  5. Pembukaan seminar Ulende Nasal Marga dan Semirin Pajar Semerah bulan Marga Bengkulu.

Pendiri Adat Semende

  1. Puyang Awak Syekh Nurqodim Al Baharudin, tinggal di Perapau dan Muara Danau.
  2. Komandan perang Puyang Mas Penghulu Ulama dari Gheci, Mataram, Jawa.
  3. Ahmad Pendekar Raje Adat Pagaruyung dari Minang Kabau (Sumatera Barat).
  4. Puyang memahami kepala agama dari tebing Rindu Ati Bangkahulu (Bengkulu).
  5. Puyang Perikse Alam oleh Lubuk Dendan Mulak Basemah.
  6. Puyang Agung Nyawe.
  7. Puyang Straight Connect Ati dari Gunung Puyung, Banten Selatan, Jawa Barat.
  8. Bpk. Kuase Raje Ulie Depati Penanggungan.
  9. Puyang Lebi Abdul Kahar dari Stage Island.
  10. Pak Mas Pangeran Bonang Muara Tenang.
  11. Regan Bumi Nakanadin Samewali Tanjung Raya.
  12. Tuan kecil Tanjung Laut.
  13. Ratu agung Umpu Eyang Dade Abang (Bpk. Nur Qodim – Puyang Awak).

Baca Juga :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *